Nama saya Muhammad Ali
Mahrus. Saya tinggal di Desa Terban kecamatan Warungasem kabupaten Batang.
Sekarang umur saya 19 tahun. Teman-teman saya biasa memanggilku dengan nama
panggilan “Ali”. Saya tinggal di sebuah kampung dengan kedua orang tuaku. Orang
tuaku selalu berusaha mendidik diriku agar lebih baik dan mampu untuk
menghadapi tantangan hidupku kelak baik di dunia maupun di akhirat. Dalam
kehidupan sehari-hari, saya lebih dekat
pada ibuku dibanding ayahku. Walaupun Ibuku terkadang tidak sejalan dengan
pikiranku.
Untuk kehidupan dunia, ibuku selalu mengajarkan bahwa hidup itu sudah
ada yang mangatur, jadi berusahalah sesuai dengan kemampuanmu sendiri, tidak
usah berlebih-lebihan dalam mencapai sesuatu. Dan ibuku tidak pernah menuntutku
untuk hidup menjadi orang yang kaya raya, yang penting berperilaku baik pada
semua orang. Namun untuk masalah akhirat, saya harus berhati-hati dalam berbuat
sesuatu, memang setiap orang pasti mempunyai doasa, namun dengan hidup
berhati-hati dosa yang didapat dapat diminimalisir.
Dari ayahku,
beliau tidak terlalu membatasi
pergaulanku dalam mencari pengalaman
asalkan tidak pada hal-hal yang
negatif. Dan beliau akan sangat
marah pada diriku jika saya membantah atas keputusan ibuku(keputusan yang
baik). Namun beliau mempunyai sifat yang apabila mempunyai kemauan yang besar, maka ia harus
meraihnya. Terkadang sifat ini dapat berdampak baik, namun tidak jarag juga
berdampak negatif.
Dari semua ajaran hidup
yang diajarkan oleh orang tuaku , saya seslalu memegang prinsip bahwa hidup ini
sudah ada yang mengartur, jadi kita hanya harus berusaha semaksimal mungkin
untuk mendapatkan sesuatu, dan berdoa pada Allah, masalah tercapai atau tidaknya suatu tujuan,
itu sudah ada yang mengatur dan aku yakin dibalik ketidaktercapainya sesuatu
pasti ada hikmahnya dan saya juga sudah pernah merasakan hal itu.
Dari lingkungan sekitar
diriku, Misalnya, teman kampung, kuliah, dan sekolah baik SD, SMP, dan SMA saya mempunyai hubungan baik dengan mereka
semua. Dulu di lingkungan sekolah saya sangat pemalu kepada teman-teman,
terutama pada guru. Dulu saat SD saya merasa takut pada guru dan gemeteran saat
berbicara pada mereka. Karena saya sudah menyadari hal itu sejak SD, maka saat
SMA saya berusaha keras untuk menghilangkan hal itu dengan cara saya mengikuti
organisasi agar mental yang saya miliki lebih kuat.
Awalny saya mengikuti kegiatan PMR di SMA untuk meningkatkn mental
saya yang kurang. Disana saya belajar agar berinteraksi dengan baik pada semua
orang. Saat latihan saya disuruh untuk menyampaikan sesuatu pada orang yang
belum saya kenal dan itu pertama kalinya saya belajar untuk menyampaikan
sesuatu pada kakak-kakak kelas yang belum saya kenal sama sekali secara
langsung dengan tatap muka. Awalnya saya sangat grogi, takut, minder, dan gemeteran.
Namun karena itu sudah bagian dari latihan maka saya lakukan semua dan hasilnya
pun sangat kurang baik tapi kakak- kakak yang mengajariku memaklumi halitu.
Lama kelamaan saya sudah mulai merasa percaya diri dan rasa pemaluku sudah
sedikit berkurang. Namun tetap saja, satu tahun pertama saya hanya mengenal
teman- teman laki-laki saja, itu pun jumlahnya tidak seberapa. Semantara yang
perempuan tidak ada yang ku kenal karena saya merasa minder dan malu. Di tahun
kedua saya di tuntut agar bekerja sama dalam sebuah tim dengan semua pengurus
dan mampu untuk menularka semua ilmu yang
didapat pada adik-adik kelas yang baru. Maka lama kelamaan saya mulai mengenal
teman-teman yang lain dan kelamaan merasa dalam sebuah keluarga, karena
kakak-kakak terdahulu yang sudah lulus masih tetap membimbing kami semua.
Di lingkungan kampung,
saya merasa senang karena semua teman-teman kampung sangat bersahabat dan mudah
untuk meminta pertolongan dibanding teman yang lain. Selain itu rasa
persaudarraaan yang tinggi juga sangat menyatu dalam kehidupan karena rata-rata orang –orang di sekitarku
masih dalam satu keluarga basar. Lingkungan kampungku sangat religius dan hal
itu membuat saya mengikuti semua kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. Namun
terkadang karena ajakan teman-teman hal itu saya tinggalkan.
Untuk saat ini, saya
belum bisa membantu orang tua saya dalam bentuk materi, namun yang hanya saya
bisa berikan hanyalah tenaga yang tidak seberapa. Namun kelak nanti saya akan
berusaha untuk membalas kebaikan orang tuaku walaupun hal itu tidak akan
mungkin untuk membalas semua kebaikannya. Ibuku tidak terlalu teropsesi pada
anak yang kaya raya, namun lebih teropsesi pada anak yang berbakti. Karena
menurutnya lebih baik anaknya hidup sederhana dan berbakti padanya sampai tua
kelak dari pada kaya raya yang tidak berbakti, dan ditakutinnya kalau anaknya
sudah tidak memikirkannya lagi. Saya berusaha untuk belajar sungguh-sungguh
agar dapat digunakan sebagai modal untuk masa depanku kelak. Dan itujuga secara
emotional membuat bangga ibuku bila melihat anaknya mendapat nilai yang baik di
perkuliahannya.
Sebenarnya saya juga
ingin membantu orangtuaku dalam membantu dalam materi, namun orang tua saya
kurang setuju akan hal itu. Tapi aku menyadari hal itu karena mungkin orang tuaku
tidak ingin memecah konsentrasi anaknya dalam hal kuliah dan agar tetap focus.
Hal yang ingin saya
ingin capai untuk masa depan menjadi orang sukses dunia dan akhirat dan mampu
untuk membahagiakan orang tuaku agar dapat membalas semua kebaikannya. Hal itu
sangat di butuhkan doa dari orang tuaku terutama seorang ibu, karena ridho
Allah tergantung ada ridho ibu kita. Dan saya akan selalu berusaha untuk tidak
menyakiti hati ibuku, karena apabila orang tua kita terutama ibu mengatakan
hal- hal yang negative pada kita saat keadaan marah, maka hal itu dapat membuat
masa depat lebih susah bila ibu kita belum atau tidak memaafkan kita. Namun hal
yang saya takut bila saat diriku sukses adalah bila saya menjadi orang yang
sombong dan malah lupa pada semuanya.
Terima kasih