Minggu, 26 Mei 2013

Proyeksi Diri



Nama saya Muhammad Ali Mahrus. Saya tinggal di Desa Terban kecamatan Warungasem kabupaten Batang. Sekarang umur saya 19 tahun. Teman-teman saya biasa memanggilku dengan nama panggilan “Ali”. Saya tinggal di sebuah kampung dengan kedua orang tuaku. Orang tuaku selalu berusaha mendidik diriku agar lebih baik dan mampu untuk menghadapi tantangan hidupku kelak baik di dunia maupun di akhirat. Dalam kehidupan sehari-hari,  saya lebih dekat pada ibuku dibanding ayahku. Walaupun Ibuku terkadang tidak sejalan dengan pikiranku.
Untuk kehidupan dunia,  ibuku selalu mengajarkan bahwa hidup itu sudah ada yang mangatur, jadi berusahalah sesuai dengan kemampuanmu sendiri, tidak usah berlebih-lebihan dalam mencapai sesuatu. Dan ibuku tidak pernah menuntutku untuk hidup menjadi orang yang kaya raya, yang penting berperilaku baik pada semua orang. Namun untuk masalah akhirat, saya harus berhati-hati dalam berbuat sesuatu, memang setiap orang pasti mempunyai doasa, namun dengan hidup berhati-hati dosa yang didapat dapat diminimalisir.
Dari ayahku, beliau  tidak terlalu membatasi pergaulanku dalam mencari pengalaman  asalkan tidak pada hal-hal yang  negatif.  Dan beliau akan sangat marah pada diriku jika saya membantah atas keputusan ibuku(keputusan yang baik). Namun beliau mempunyai sifat yang apabila  mempunyai kemauan yang besar, maka ia harus meraihnya. Terkadang sifat ini dapat berdampak baik, namun tidak jarag juga berdampak negatif.
Dari semua ajaran hidup yang diajarkan oleh orang tuaku , saya seslalu memegang prinsip bahwa hidup ini sudah ada yang mengartur, jadi kita hanya harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan sesuatu, dan berdoa pada Allah,  masalah tercapai atau tidaknya suatu tujuan, itu sudah ada yang mengatur dan aku yakin dibalik ketidaktercapainya sesuatu pasti ada hikmahnya dan saya juga sudah pernah merasakan hal itu.
Dari lingkungan sekitar diriku, Misalnya, teman kampung, kuliah, dan sekolah baik SD, SMP, dan  SMA saya mempunyai hubungan baik dengan mereka semua. Dulu di lingkungan sekolah saya sangat pemalu kepada teman-teman, terutama pada guru. Dulu saat SD saya merasa takut pada guru dan gemeteran saat berbicara pada mereka. Karena saya sudah menyadari hal itu sejak SD, maka saat SMA saya berusaha keras untuk menghilangkan hal itu dengan cara saya mengikuti organisasi agar mental yang saya miliki lebih kuat.
 Awalny saya mengikuti  kegiatan PMR di SMA untuk meningkatkn mental saya yang kurang. Disana saya belajar agar berinteraksi dengan baik pada semua orang. Saat latihan saya disuruh untuk menyampaikan sesuatu pada orang yang belum saya kenal dan itu pertama kalinya saya belajar untuk menyampaikan sesuatu pada kakak-kakak kelas yang belum saya kenal sama sekali secara langsung dengan tatap muka. Awalnya saya sangat grogi, takut, minder, dan gemeteran. Namun karena itu sudah bagian dari latihan maka saya lakukan semua dan hasilnya pun sangat kurang baik tapi kakak- kakak yang mengajariku memaklumi halitu. Lama kelamaan saya sudah mulai merasa percaya diri dan rasa pemaluku sudah sedikit berkurang. Namun tetap saja, satu tahun pertama saya hanya mengenal teman- teman laki-laki saja, itu pun jumlahnya tidak seberapa. Semantara yang perempuan tidak ada yang ku kenal karena saya merasa minder dan malu. Di tahun kedua saya di tuntut agar bekerja sama dalam sebuah tim dengan semua pengurus dan mampu untuk  menularka semua ilmu yang didapat pada adik-adik kelas yang baru. Maka lama kelamaan saya mulai mengenal teman-teman yang lain dan kelamaan merasa dalam sebuah keluarga, karena kakak-kakak terdahulu yang sudah lulus masih tetap membimbing kami semua.
Di lingkungan kampung, saya merasa senang karena semua teman-teman kampung sangat bersahabat dan mudah untuk meminta pertolongan dibanding teman yang lain. Selain itu rasa persaudarraaan yang tinggi juga sangat menyatu dalam kehidupan  karena rata-rata orang –orang di sekitarku masih dalam satu keluarga basar. Lingkungan kampungku sangat religius dan hal itu membuat saya mengikuti semua kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. Namun terkadang karena ajakan teman-teman hal itu saya tinggalkan.
Untuk saat ini, saya belum bisa membantu orang tua saya dalam bentuk materi, namun yang hanya saya bisa berikan hanyalah tenaga yang tidak seberapa. Namun kelak nanti saya akan berusaha untuk membalas kebaikan orang tuaku walaupun hal itu tidak akan mungkin untuk membalas semua kebaikannya. Ibuku tidak terlalu teropsesi pada anak yang kaya raya, namun lebih teropsesi pada anak yang berbakti. Karena menurutnya lebih baik anaknya hidup sederhana dan berbakti padanya sampai tua kelak dari pada kaya raya yang tidak berbakti, dan ditakutinnya kalau anaknya sudah tidak memikirkannya lagi. Saya berusaha untuk belajar sungguh-sungguh agar dapat digunakan sebagai modal untuk masa depanku kelak. Dan itujuga secara emotional membuat bangga ibuku bila melihat anaknya mendapat nilai yang baik di perkuliahannya.
Sebenarnya saya juga ingin membantu orangtuaku dalam membantu dalam materi, namun orang tua saya kurang setuju akan hal itu. Tapi aku menyadari hal itu karena mungkin orang tuaku tidak ingin memecah konsentrasi anaknya dalam hal kuliah dan agar tetap focus.
Hal yang ingin saya ingin capai untuk masa depan menjadi orang sukses dunia dan akhirat dan mampu untuk membahagiakan orang tuaku agar dapat membalas semua kebaikannya. Hal itu sangat di butuhkan doa dari orang tuaku terutama seorang ibu, karena ridho Allah tergantung ada ridho ibu kita. Dan saya akan selalu berusaha untuk tidak menyakiti hati ibuku, karena apabila orang tua kita terutama ibu mengatakan hal- hal yang negative pada kita saat keadaan marah, maka hal itu dapat membuat masa depat lebih susah bila ibu kita belum atau tidak memaafkan kita. Namun hal yang saya takut bila saat diriku sukses adalah bila saya menjadi orang yang sombong dan malah lupa pada semuanya.
Terima kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar